Berdirinya Arab Saudi
Abdul Aziz
al Sa’ud adalah putra dari Abdurrahman, pemimpin terakhir dinasti Saud II. Ia
lahir pada 1880 di Riyadh, ketika gejolak perang saudara sedang mengguncang
dinasti keluarganya. Ia menyaksikan bagaimana paman-paman dan ayahnya berebut
tahta yang akhirnya menyebabkan kehancuran seluruh imperium itu. Pada waktu
dinasti Saud II runtuh, dikalahkan oleh klan Rashidi, dia ikut melarikan diri
bersama ayahnya ke Kuwait. Tidak pasti apa yang dipersiapkannya di Kuwait.
Namun sejarah mencatat kisah heroik Abdul Aziz bersama 40 pengikutnya
menaklukkan Riyadh.
Pada bulan
Desember 1901, Abdul Aziz yang pada waktu itu masih berusia 21-22 tahun,
berangkat meninggakan Kuwait menuju Riyadh bersama 40 orang pilihannya. Pada
tanggal 15 Januari 1902 ia bersama pengikutnya berhasil menaklukkan benteng
Masmak,[1] yang
merupakan jantung kekuasaan klan Rashidi di Riyadh. Setelah ia berhasil
menaklukkan benteng ini, praktis ia menjadi penguasa Riyadh. Menariknya,
kedatangannya disambut suka cita oleh para penduduk laksana seorang pahlawan. Dari
titik inilah kemudian sejarah Negara Arab Saudi modern dimulai. Kisah heroik
Abdul Aziz masih menjadi legenda yang dikisahkan berulang-ulang sampai hari
ini. Empat puluh orang, menaklukkan benteng terkuat di jazirah Arab pada masa
itu, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Abdul Aziz dan keturunannya.
Tapi
terlepas dari kisah heroik Abdul Aziz yang terkadang juga bercampur mitos dan
sebagainya, ia memang memiliki kecakapan memimpin yang mumpuni. Penaklukan
benteng Mismak hanyalah awal. Tantangan sebenarnya datang 2 tahun setelah itu,
ketika tentara gabungan Ottoman dan dinasti Rashid datang untuk membalas atas
kekalahan di Riyadh. Pada tahun 1904 Abdul Aziz berhasil mengalahkan pasukan
gabungan ini, dan berhasil membunuh Muhammad ibn Rashid pada tahun 1906. Dengan
hasil kemenangan ini, praktis Abdul Aziz menjadi penguasa satu-satunya di
wilayah Arabia Tengah.
Tapi berbeda
dengan pada pendahulunya, Abdul Aziz memiliki kecakapan yang baik dalam
politik. Secara sangat hati-hati ia menyeimbangkan hubungan antar kekuatan di
kawasan. Ia tetap mengakui kekuasaan Ottoman dan tidak melakukan tindakan yang
bisa menarik perhatian dinasti Ottoman. Sedang disisi lain, ia juga melakukan
kontak dengan Inggris yang pada saat itu sudah menguasai semenanjung Arabia,
Terusan Suez dan wilayah sekitarnya.
Sambil secara bertahap menggandakan kekuatannya, dan merapihkan
pemerintahannya, Abdul Aziz secara perlahan mulai melakukan ekspansi perluasan
wilayah. Penaklukan terbesar pertamanya terjadi pada tahun 1913 ke Al Hasa,
yang pada masa itu diduduki oleh Ottoman. Penaklukan ini berhasil, meski pada
1914 Abdul Aziz dipaksa kembali mengakui kedaulatan wilayah Ottoman di kawasan
Arabia.
Pada masa Perang Dunia I (1914-1918), Abdul Aziz mendekat ke Inggris, dan
pilihannya tepat pada waktu itu. Ia mendapat perlindungan dan subsidi dari
kerajaan Inggris. Pada tahun 1919, atau setelah Perang Dunia I, dia melancarkan
serangan ke Ḥusayn ibn’Alī penguasa Hijaz, yang juga penguasa dua kota suci,
Mekkah dan Madinah. Di tahun 1920, putra Abdul Aziz yang bernama Faisal,
berhasil merebut wilayah Asir yang berbatasan dengan Yaman. Dan tahun 1921,
Abdul Aziz telah berhasil menguasai seluruh wilayah Arab Utara, dan untuk
pertama kalinya menyatakan diri sebagai Sultan wilayah Najd.[5]
Tapi ekspedisi militer belum selesai. Masih ada Ḥusayn ibn’Alī yang
menguasai dua kota suci yang belum tuntas ditaklukkan. Inggris yang merasakan
konflik antara Abdul Aziz dengan Ḥusayn ibn ‘Alī bisa membahayakan stabilitas
perdagangannya di kawasan Arabia, khususnya Kuwait, membuat panitia arbritase
tahun 1923, untuk mendamaikan keduanya. Namun pertemuan ini tidak menghasilkan
apapun, selain memperuncing persoalan yang ada.
Pada tahun 1924, akhirnya serangan puncak pun dilakukan kepada penguasa dua
kota suci, Ḥusayn ibn ‘Alī, dan baru setahun kemudian ia berhasil
menguasai Mekkah, Madinah, dan Jeddah dan menjadi menguasa tunggal wilayah
tersebut. Setahun setelah itu, atau 8 Januari 1926, Abdul Aziz memproklamirkan
dirinya sebagai Sultan wilayah Hijaz, di Masjidil Haram, Mekkah. Sejak
pengakuannya sebagai Sultan wilayah Hijaz, tidak sedikit tantangan yang
dihadapinya, mulai dari pemberontakan, hingga dinamika politik kawasan. Setelah
6 tahun berselang, barulah pada 23 September 1932, ia memproklamirkan
kemerdekaan seluruh wilayah kekuasaannya di tanah Arab sebagai negara yang
merdeka dengan ia sendiri sebagai rajanya. Wilayah inilah yang sekarang kita
kenal negara Saudi Arabia, dengan kerajaannya yang masih diwarisi secara turun
temurun oleh anak keturunan Abdul Aziz hingga sekarang.
Abdul Aziz sendiri wafat pada 9 November 1953, tapi ia telah berhasil
menyempurnakan mimpi-mimpi pendahulunya, dan meninggalkan warisan yang begitu
besar bagi anak cucunya. Nyaris tidak ada pencapaian yang lebih jauh yang bisa
dicapai oleh pendahulunya, dan tidak juga ada perubahan yang cukup mendasar
yang bisa dilakukan oleh anak cucunya terhadap warisannya. Saudi Arabia yang
kita lihat dari ini, tidak jauh berbeda dengan Saudi Arabia pada tahun 1953
lalu.
Setelah dua abad sejak pakta perjanjian antara Muhammad ibn Saud dengan
Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dilaksanakan, baru di tangan Abdul Aziz-lah visi
tersebut menjadi kenyataan. Dalam hal peribadatan, dialah yang mengambil alih
seluruh pengelolaan ibadah haji, dan mendaku dirinya sebagai penjaga dua rumah
suci (khadamul haramain). Ia bersihkan situs-situs yang dianggap sebagai
biang kemunkaran, seperti makam-makam para sahabat dan istri-istri Nabi
Muhammad SAW. Demikian juga dengan rumah Khadijah, yang dikatakan sebagai
tempat turunnya sebagian besar surat-surat Makiyyah, tak luput dari
penertiban yang dilakukannya.
Abdul Aziz juga yang memodernisasi Arab Saudi dan berkerjasama dengan
negara-negara adidaya seperti Inggris dan AS dalam hal ekonomi dan perdagangan.
Dia juga yang menggandeng AS untuk melakukan kerjasama pengeboran minyak di
tahun 1933, dan mendirikan apa yang kita kenal sekarang Arabian
American Oil Company (ARAMCO).[6] Hingga hari ini, hubungan antara
keturunan Abdul Aziz dengan AS tetap baik, dan saling menguntungkan.
Kedekatannya dengan AS dan Inggris telah mendudukkan sebagai salah satu negara
penting dalam perserikatan bangsa-bangsa (PBB) pada tahun 1945. Adapun di
kawasan, Saudi Arabia juga menjadi penggagas lahirnya liga Arab, dan
menjadikannya sebagai salah satu kekuatan yang disegani di kawasan ini. Semua
perangkat ini, adalah fundamen yang sangat kokoh guna menopang keberlangsungan
dinasti kerajaan Saudi yang tidak pernah dicapai sebelumnya oleh para pendahulunya.
(AL)
Setelah menjelaskan mengenai sejarah berdirinya Arab Saudi diatas,
saya akan menjelasakan yang lain. Masih ada kaitannya dengan islam, dalam islam
sendiri memiiki bangunan suci yang biasa digunakan sebagai tempat ibadah.
Bangunan tersebut biasa disebut masjid. Namun juga ada musholla. Masjid dan
musholla ini samma saja, perbedaannya hanya terdapat dalam bentuk bangunan
namun fungsinya tetap sama yakni sebagai tempat beribadah. Dalam sebuah masjid
maupun musholla semestinya terdapat perlengkapan masjid, salah satunya jam
digital masjid. Harga jam digital masjid bandung ini juga beragam, tergantung
dengan type jam digital masjid tersebut. Kami juga memiliki kantor yang
memproduksi jam digital masjid. Produk kami dijamin kualitasnya, jadi kalian
jangan khawatir. Produk kami ini juga sudah terbukti dan terpercaya. Bagi yang
berminat atau ingin tahu lebih lanjut mengenai produk kami ini, dapat kunjungi
laman website kami di www.jadwaldigital.com
Sumber:
https://ganaislamika.com/titik-balik-sejarah-islam-modern-5-berdirinya-negara-arab-saudi/

Komentar
Posting Komentar